Juni 17, 2024

 

Pelitasumbar Ranah Minang.

oleh : Khairul Koto,S.I.Kom.

menilik perkembangan zaman di era globalisasi,baik itu dibidang tekhnologi maupun di bidang pendidikan,semuanya serba modern,baik cara kerjanya maupun peralatannya. bagi sebagian manusia kemajuan yang dibuat manusia ini di anggap sudah menandingi perbuatan Tuhan.

karena terlalu meng agung -agungkan dunia maya ini, malahan banyak yang lupa diri sehingga tidak memahami lagi yang artinya ghoib,bahkan tanda-tanda yang di perlihatkan oleh sang pencipta di anggap permainan yang aneh dan lucu, yang dikatakannya itu adalah fenomenal.

kesemua yang berlaku ini harus menjadi perhatian dan tanggungjawab yang serius bagi pemuka kita,khususnya di ranah minangkabau,karena kehidupan masyarakat di ranah minangkabau sudah di baiad oleh para petinggi di luhak nan tigo,yang dituangkan kedalam kitab sumpah satia marapalam,yang bertempat di puncak pato pada tahun 1403.M.

yang salahsatunya masyarakat minangkabau harus mematuhi palsafah “Adaik basandi sara,sara basandi kitabullah”yang menunjukkan bahwasanya masyarakat di minangkabau bukan lagi kerajaan tapi sudah menjadi kesultanan,yang dipimpin oleh sultan Bagagarsyah Alif Kaliffahtullah gelar islamnya dan sultan bakilek alam gelar dari adat.

pedoman yang sudah di patrikan ini, para pemuka harus bisa meyakinkan kepada anak cucu kita bahwa masyarakat di minangkabau itu sudah memiliki Adab dan Adat sedari dahulu,dan apakah di era modern sekarang ini akan memudar sesuai perkembangan zaman. ? …hal yang dicemaskan ini bisa terjadi bahkan sudah sedang berlalu lalang di ranah minang yang kita cintai ini.

di 19 kota dan kabupaten yang ada di ranah minang (sumatera barat-red) sudah banyak masyarakatnya yang membuat prasasti atau tugu dan bangunan yang bentuknya bukan mencerminkan bangunan budaya lokal yang ada di minangkabau, tapi sudah bercontoh ke budaya barat dan ini sangat di dukung oleh pemerintah setempatnya.

dengan berbondong-bondongnya warga, yang khususnya kaula muda, yang selalu meng agung-agungkan ciptaan manusia itu dengan cara ber eforia,berselfi-selfi berfhotoria, hal yang serupa ini kalau tidak cepat di antisifasi bisa-bisa kaula muda tersebut kehilangan sejarah jatidiri ranah minagkabau. ini baru sebatas pandangan,apalagi nantinya sudah mengarah kepada pengrusakan ajaran agama,sudah tentu merusak akidah.

hal ini sangat perlu pembinaan yang dimulai dari keluarga kecil dan juga dari pemerintahan terendah agar anak kemenakan kita diberi pembinaan tentang pendidikan adat budaya dan agama.***