pewarta : rial
editor : khaiko
Jakarta, pelitasumbar.com – Prajurit TNI dalam misi perdamaian di bawah United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali menjadi korban di tengah meningkatnya eskalasi konflik Israel vs Lebanon. Hingga Senin (30/03/2026) malam waktu Beirut, total tiga prajurit TNI gugur dan lima lainnya mengalami luka-luka.
UNIFIL mengonfirmasi adanya tambahan korban dari Indonesia dalam insiden terbaru yang terjadi di wilayah Lebanon selatan. Peristiwa ini menambah daftar korban prajurit TNI yang bertugas dalam operasi penjaga perdamaian di kawasan tersebut.

Dua prajurit yang gugur dalam kejadian terbaru adalah Kapten Infanteri Zulmi dari Grup 2 Kopassus yang menjabat sebagai Komandan Kompi B, serta Sersan Satu Ikhwan dari Kesdam IX/Udayana. Keduanya dilaporkan meninggal dunia setelah kendaraan yang mereka tumpangi meledak di sekitar wilayah Bani Hayyan pada Senin siang.

Dengan insiden tersebut, total korban jiwa prajurit TNI bertambah menjadi tiga orang dalam kurun dua hari terakhir. Selain itu, lima prajurit lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan berbeda dan kini menjalani perawatan medis intensif.

Sebelumnya, pada 29 Maret 2026, seorang prajurit TNI atas nama Praka Farizal Rhomadhon juga dilaporkan gugur dalam insiden berbeda. Pada kejadian yang sama, Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, sementara Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyampaikan bahwa kondisi keamanan di wilayah penugasan UNIFIL memang tengah mengalami peningkatan eskalasi dalam beberapa hari terakhir.

Ia menjelaskan bahwa total delapan prajurit TNI menjadi korban dalam rentang dua hari, baik yang gugur maupun mengalami luka-luka akibat rangkaian insiden di wilayah konflik tersebut.

Para prajurit tersebut diketahui sedang melaksanakan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL saat insiden terjadi. Hingga saat ini, penyebab pasti peristiwa masih dalam proses penyelidikan oleh pihak UNIFIL sesuai prosedur yang berlaku.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan TNI terus melakukan koordinasi dengan markas besar UNIFIL untuk memastikan keselamatan seluruh personel serta memberikan penanganan terbaik bagi para korban.

Proses evakuasi dan penanganan medis terhadap prajurit yang terluka telah dilakukan sesuai standar operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat ini para korban luka dirawat di fasilitas kesehatan di Beirut.

Kementerian Pertahanan juga menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama. Semua pihak yang terlibat dalam konflik di Lebanon diharapkan dapat menghormati hukum humaniter internasional serta menjamin perlindungan bagi personel misi perdamaian.

Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia melalui partisipasi dalam misi penjaga perdamaian PBB, meski situasi di lapangan terus menghadapi tantangan berat. (ri-red).