Dilema Politik Buruk Usai Pemilihan Pemimpin yang Diterima Masyarakat.

FB_IMG_1772471959557

OLEH : Dubalang Khalifah ke XV.

Kalau  kita hidup, tinggal dan berbaur di negara republik, kita sudah siap menghadapi politik yang selalu berwarna warni, terutama dalam pencapaian pelita (pemilihan sekali lima tahun).

pelita yang dimaksud adalah, pemilihan kepala daerah yang sudah ditetapkan dalam undang undang dasar yang dijadwalkan sekali lima tahun, khusus pemilu.

diawali mulainya perhelatan di kancah politik, masing masing para calon yang akan mencalonkan diri memunculkan bermacam gaya, untuk memikat hati masyarakat yang akan menjadikan dia sebagai idola nantinya ketika pemilihan.

berdasarkan obserfasi penulis dilapangan. ada tiga tiori pemikat  suara yang diharapkan oleh para masing masing calon pemimpin :

Pertama : audiens di palanta, biasanya mangsa suara yang akan didapat bermacam selera, karena palanta adalah kedai kopi atau makanan, yang semua suara berkemungkinan hadir yang bersifat umum. dan hasilnya belum tentu dipercaya, yang penting berbuat.

Kedua : sistim menangguk ikan di sungai. yang intinya para masing masing calon mengumpulkan masyarakat, dengan membuat kegiatan atau acara agar masyarakat menumpuk dan para calon mengemukakan keinginannya. politik seperti ini hanya separoh dalam kepastian suara.

dan Ketiga : para masing masing calon yang cerdas akan mencari, mendatangi dan membuat kerjasama dengan kelompok, organisasi yang telah teroganisir, dengan perjanjian kesepakatan kontrak politik.

namun setelah perhelatan politik usai, dan kursi kemenangan sudah didapat oleh masing masing para calon, bahkan  sudah menduduki kursi sebagai pemimpin, janji dan kontrak politik yang sudah di buat dengan rapi itu kembali berantakan bahkan sampai merusak kepribadian antara para calon tadi dengan masyarakat yang telah memilihnya.

janji tinggal janji tak satupun yang ditepati, ketika ditagih sifat lupanya muncul, ketika ketemu di jalanan kaca mobilnya sengaja di tutup, ibarat kacang lupa dengan kulitnya, ibarat membesarkan anak harimau, setelah besar kita yang akan diterkamnya. inilah yang sering didapat oleh masyarakat yang karena berkeinginan untuk merubah nasib suatu kaum dan kampung, yang didapat hanyalah penyesalan dan kekesalan.

beranjak dari semua pengalaman dan kejadian politik buruk ini, mari kita lebih berhati – hati dan waspada terhadap rayuan para calon yang akan berharap kepada kita, jangan sampai orang tua kehilangan tongkat keduakalinya. mari kita tiliak lebih dalam apakah orang orang yang akan kita jadikan calon pemimpin memang sudah sangat layak dan memenuhi kriteria sebagai pemimpin.

dan syarat yang mutlak untuk menentukan seorang pemimpin ditengah masyarakat adalah kita masyarakat harus selalu bermusyawarah dalam berbuat atau menentukan keputusan. insyaallah masyarakat akan mendapatakan negeri yang baldatun taiyii waradun gafur. (***)