Strategi Abah Lamo Cafe Menarik dan Mempertahankan Pelanggan Mahasiswa Unand
Regia
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, universitas andalas.
Padang 19 september 2026 – Abah Lamo Cafe menjadi salahsatu usaha kuliner yang telah bertahan lama selama sekitar 20 tahun dikawasan Business Center Universitas Andalas ( unand).
Berawal dari sebuah pondok sederhana, usaha milik ibu Reni ini kini berkembang menjadi cafe yang menjadikan mahasiswa unand sebagi target utama pelanggan. ditengah ketatnya persaingan kuliner sekitar kampus yang terus bermunculan setiap tahun, Abah Lamo Cafe bertahan lewat kombinasi strategi yang sederhana : lokasi yang dekat dengan aktivitas mahasiswa, harga yang bersahabat dengan kantong mahasiswa, variasi menu yang sesuai selera, dan keramahan dalam melayani pelanggan.
Usaha ini dijlakan oleh ibu Reni bersama sang anak, Felisa, yang turut membantu operasional sehari-hari. menurut ibu Reni,Abah Lamo Cafe telah berdiri dilokasi yang sama selama kurang lebih 20 tahun, jauh sebelum berkembang menjadi cafe seperti sekarang.
Usaha ini bermula dari sebuah pondok kecil, dan pelanggan pertamanya justru datang dari kalangan pekerja di sekitar kawasan tersebut, sebelum akhirnya mahasiswa yang tinggal di asrama mulai berdatangan satu- pewrsatu.
” awal mulanya kuli yang beli, terus ada satu persatu mahasiswa asrama yang mulai beli juga,” kenang ibu Reni.
Cerita ini memperlihatkan bahwa loyalitas pelanggan Abah Lamo Cafe tumbuh dari mulut kemulut diantara mahasiswa, bukan dari promosi besar-besaran. pelanggan yang merasa cocok dengan rasa dan pelayanan kembali datang,sekaligus menyebarkan kabar tentang tempat makan tersebut ke mahasiswa lain. cara ini terbukti efektif mengngatb lingkungan kampus adalah komunitas yang relatif tertutup, sehingga rekomendasi dari sesama mahasiswa cenderung lebih dipercaya dibanding promosi konvensional.
pemilihan lokasi menjasi salahsatu keputusan strategi yang paling terasa manfaatnya bagi usaha ini. berada tepat dikawasan business center membuat abah lamo cafe mudah dijangkau mahasiswa tanpa harus keluar jauh dari lingkungan kampus, sehingga faktor kedekatan ini menjadi daya tarik tersendiri ditengah banyaknya pilihan tempat makan disekitar unand.
ketika ditanya siapa target utama pedagangnya, jawaban ibu reni singkjat namun jelas.
“mahasiswa unand,”ujarnya
kedekatan lokasi ini membuat hampir seluruh keputusan usaha, mulai dari pemilihanmenu hingga cara melayani pelanggan, disesuaikan dengan kebiasaan mahasiswa yang umunya mencari makan praktis, mengenyangkan, dan terjangkau disela-sela aktivitas kuliah.
dari sisi menu abah lamo cafe menyediakan variasi yang cukup luas, antara lain pecel ayam, ayam geprek, nasi ampera dan soto, sehingga pelanggan memiliki beberapa alternatif setiap kali datang. Menurut Felisa,dari semua pilihan tersebut, pecel ayam adalah menu yang paling sering dipesan mahasiswa.
soal jumlah pelanggan yang datang setiap harinya, ibu Reni mengatakan tidak ada patokan pasti karena bergantung pada situasi hari itu.
“kalau jumlahnya tidak tentu,tergantung ramai atau tidaknya. kalau lagi ramai bisanya lebih banyak, kalau sepi ya lebih sedikit,” ujarnya.
selain menu, pelayan menjadi elemen yang tidak kalah penting dalam strategi usaha ini. ibu reni menekankan bahwa sikap ramah kepada mahasiswa adalh kunci menarik pelanggan,mengingat interasi antara penjual dan pembeli dikawasan kampus berlangsung secara langsung setiap hari.
pendekatan personal semacam ini yang penting karena usaha dilingkungan kampus sangat bergantung pada kunjungan berulang dari kelompok pelanggan yang relatif sama.”harus ramah kepada mahasiswa, harus pandai-pandailah menarik mahasiswa,”katanya.
prinsip yang sama dipegang felisa dalam membantu operasional sehari-hari. baginya, pelayanan yang baik adalah syarat utama agar pelanggan puas dan mau kembali.
“harus melayani dengan baik”, ujarnya.
selain pelayanan, abah lamo cafe juga memperhatikan bagaimana caranya agar pelanggan lama bersedia kembali. menurut ibu reni, makanan yang disajikan perlu terus diperhatikan, dan jika diperlukan, cara memasak bisa diubah agar pelanggan tetap tertarik dengan menu yang ditawarkan.
kesediaan untuk terus menyesuaikan produk inimenjadi salahsatu bentuk strategi mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang, bukan sekedar menarik pelanggan baru.
“kalau enggak,diubah cara masak makanannya,”jelasnya.
soal masukan pelanggan, felisa mengaku belum ada kritik spesifik yang pernah membuat usaha ini melakukan perubahan besar. namun demikian, ibu reni tetap terbuka mengubah cara memasak apabila diperlukan, menunjukan bahwa evaluasi terhadap produk tetap menjadi bagian dari upaya usaha menjaga pelanggan, meski belum ada keluhan yang mendorong perubahan secara langsung.
strategi tersebut dirasakan langsung oleh pelanggan, Nata, mahasiswa unand yang tinggal di asrama, mengaku meilih abah lamo cafe karena kombinasi lokasi, harga, dan pilihan menu yang sesuai kebutuhan mahasiswa. baginya kedekatan jarak dari asrama menjadi pertimbangan utama, ditambah banyaknya pilihan makanan dan harga yang masih terjangkau.
“karena lokasinya dekat dengan kampus dan pilihan makanannya cukup banyak. harganya juga masih terjangkau untuk mahasiswa,” ujarnya.
selain soal lokasi dan harga, Nata juga menilai kualitas rasa dan pelayanan yang diberikan abah lamo cafe.
” rasanya enak, pelanannnya baik, ibuknya ramah dan sigap,” ujar Nata.
penilaian tersebut turut tercermin dari frekuensi kunjungannya yang terbilang cukup rutin, seperti diakuinya saat di tanya beberapa sering ia membeli makanan di tempat tersebut.
“lumayan sering,” ujarnya.
kombinasi antara lokasi yang strategi, harga yang wajar, pilihan menu yang beragam, dan pelayanan yang ramah inilah yang secara tidak langsung membentuk loyalitas pelanggan dari kalangan mahasiswa terhadap abah lamo cafe.
dalam menjalankan usaha sehari hari, abah lamo cafe dibantu oleh dua orang karyawan, meski salahsatunya tidak berada ditempat saat wawancara berlangsung sehingga perannya turut di isi oleh felisa. keterlibatan anggota keluarga dalam kegiatan usaha ini menjadi bagian dari aktivitas abah lamo cafe sehari-hari. sekaligus memperkuat kedekatan personal antara usaha ini dengan pelanggannya.
selam sekitar dua dekade beroperasi di kawasan business center unand, abah lamo cafe menunjukan bagaimana usaha kuliner disekitar kampus dapat bertahan dengan memadukan lokasi strategis, harga terjangkau, variasi menu, dan pelayanan ramah.
dari sebuah pondok sederhana yang awalnya hanya dikenal kalangan pekerja sekitar, hingga menjadi cafe seperti sekarang, perjalanan abah lamo cafe memperlihatkan bahwa konsistensi dan kedekatan dengan pelanggan tetap menjadi kunci bertahannya usaha kuliner kampus.(Regia)






