Dua Sekolah Komplain Atas Menu MBG Dari Dapur Yayasan Alinia Pilubang

oplus_0

oplus_0

Pewarta : Tim
Editor : Khaiko
Padang Pariaman, pelitasumbar.com -Dua sekolah komplain atas menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) dari Dapur Yayasan Alinia Pilubang Kec. Sungai Limau Padang Pariaman, yang tidak memenuhi standar Gizi yang ditetapkan oleh BGN.
Yunita Kepala SMA N2 Sungai Limau Mengatakan, menu kering yang disediakan selama Ramadhan tahun ini, secara gizi sangat jauh dari yang diharapkan.
“Minggu pertama puasa, ada 3 macam isi menu MBG nya. Kacang satu bungkus seukuran jempol tangan, susu sebotol ibu jari kaki dan kue bungkus kecil. Sudah kita komplain, namun ganti nya malah lebih buruk lagi,”kata Yunita Senin (9/03/2026).
Kali ini menu MBG diwilayah Pilubang malah lebih mengecewakan, satu butir telur seukuran bola pingpong, roti kemasan, dan apel sortiran.
“Berapalah harganya, Menu MBG ini, kita selaku ibu-ibu yang sering belanja kepasar sudah tau ini semuanya. Kalau apel sortiran kecil-kecil seperti ini paling 1 Kg/ Rp 18.000, isinya 8 biji, telur MK Rp 1500/butir ditambah roti Rp 2.000,”ujar Yunita.
Nada serupa di Sampaikan oleh Kepala SMP N3 Pilubang, bahkan dia mengatakan apel nya rasa asam, kulit kasar dan berbintil-bintil.
“Gimana lagi ya pak, meskipun sudah di protes. Namun ganti menunya malah yang lebih dibawah standar. Sebetulnya kami mau nolak, tapi kasihan dengan siswa, mereka pengin juga kata nya,”celetuk Guru tersebut.
Sementara itu pihak Yayasan atas nama Marlis, mengatakan persoalan managemen dan gizi merupakan tanggung jawab sepenuhnya pada SPPG.
“Sifat Kita Selaku infestor hanya sebagai penyedia tempat, dan peralatan dapur serta kendaraan operasional,”kata Marlis melalui sambungan Hp.
Sedangkan kepala SPPG Andika didampingi Diva bagian gizi, menunya memang sengaja ditukar setiap Minggu supaya Tidak membosankan siswa/i penerima.
“Sedangkan soal gizinya memang belum terpenuhi, Karena kalau menu kering itu sifatnya sama dengan Snack untuk menutupi kebutuhan hidangan saat berbuka puasa saja,”kata Diva menimpali.
Sementara itu soal buah yang jauh dari kualitas dia mengatakan, bahwa untuk mendapatkan buah layak itu sangat sulit dipasaran. Apalagi susu putih steril murni tanpa rasa.
Andika juga mengatakan, bahwa pihak nya telah menerima pencairan anggaran dari BGN, Minggu pertama Rp 500 juta dan Minggu kedua lebih kurang Rp 200 juta.
“Kedepan kita akan ganti menunya yang lebih menyesuaikan. Kemudian masih ada tambahan lagi jumlah penerima MBG. Karena sekarang baru sekira 1.500 penerima. Karena setiap dapur itu ditarget 2.500 orang penerima,”Kata Andika.
Lebih jauh dia mengungkapkan, bahwa ditahun 2026, pihak pengelola Yayasan menerima hasil keuntungan investasi dari satu dapur secara mendatar yakninya Rp 6 juta/hari.(relis/w)